Pelaksanaan penyembelihan hewan qurban telah diatur sedemikian rupa
oleh syari’at Islam, mulai dari waktu, tempat, jenis-jenis hewan yang
disembelih beserta umurnya dan kepada siapa daging kurban itu dibagikan,
semua ini telah dijelaskan oleh para ulama’-ulama’ fiqih terdahulu.
Berbeda dengan penyembelihan hewan biasa yang tidak terikat dengan
syarat-syarat tertentu sebagaimana hewan qurban, karena hal itu bisa
dilakukan kapan saja, siapa saja dan untuk siapa saja dibagikan.
Udhiyyah atau berkurban termasuk salah satu syi'ar Islam
yang agung dan termasuk bentuk ketaatan yang paling utama. Ia adalah
syi'ar keikhlasan dalam beribadah kepada Allah semata, dan realisasi
ketundukan kepada perintah dan larangan-Nya. Karenanya setiap muslim
yang memiliki kelapangan rizki hendaknya ia berkurban.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
"Barangsiapa yang memiliki kelapangan, sedangkan ia tidak berkurban, janganlah dekat-dekat musholla kami." (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim, namun hadits ini mauquf).
Diantara urusan kurban yang harus diketahui oleh seorang mudhahhi
(orang yang hendak berkorban) adalah syarat-syaratnya. Apa yang harus
dipenuhi oleh pengorban dari ibadah kurbannya:
Pertama, hewan kurban harus dari hewan ternak; yaitu unta, sapi, kambing atau domba. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan
(kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak
yang telah direzekikan Allah kepada mereka." (QS. Al-Hajj: 34)
Bahimatul An'am: unta, kambing dan sapi, Ini yang dikenal oleh orang
Arab sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hasan, Qatadah, dan selainnya.
Atau sejenis hewan sapi seperti kerbau karena hakikatnya sama dengan
sapi juga diperbolehkan untuk berkurban, dengan demikian maka tidak sah
berkurban dengan 100 ekor ayam, atau 500 ekor bebek dikarenakan tidak
termasuk kategori Bahimatul An’am.
Kedua, usianya sudah mencapai umur minimal yang ditentukan syari'at.
Umur hewan ternak yang boleh dijadikan hewan kurban adalah seperti berikut ini;
- Unta minimal berumur 5 tahun dan telah masuk tahun ke 6.
- Sapi minimal berumur 2 tahun dan telah masuk tahun ke 3.
- Kambing jenis domba atau biri-biri berumur 1 tahun, atau minimal berumur 6 bulan bagi yang sulit mendapatkan domba yang berumur 1 tahun. Sedangkan bagi kambing biasa (bukan jenis domba atau biri-biri, semisal kambing jawa), maka minimal berumur 1 tahun dan telah masuk tahun ke 2.
Sebagaimana terdapat dalam kitab Kifayatul Akhyar,
ويجزئ فيها الجذع من الضأن والثني من المعز والثني من الإبل والثني من البقر
Umur hewan kurban adalah Al-Jadza’u (Domba yang berumur 6 bulan-1 tahun), dan Al-Ma’iz (Kambing jawa yang berumur 1-2 tahun), dan Al-Ibil (Unta yang berumur 5-6 tahun), dan Al-Baqar (Sapi yang berumur 2-3 tahun).
Maka tidak sah melaksanakan kurban dengan hewan yang belum memenuhi
kriteria umur sebagaimana disebutkan, entah itu unta, sapi maupun
kambing. Karena syari’at telah menentukan standar minimal umur dari
masing-masing jenis hewan kurban yang dimaksud, jika belum sampai pada
umur yang telah ditentukan maka tidak sah berkurban dengan hewan
tersebut, jika telah sampai pada umur atau bahkan lebih maka tidaklah
mengapa, asalkan tidak terlalu tua sehingga dagingnya kurang begitu
empuk untuk dimakan.
Ketiga, syarat yang harus dipenuhi orang yang berkurban
adalah hewan kurban terbebas dari aib/cacat, sehingga bisa mengurangi
kesempurnaan pelaksanaan ibadah kurban. Di dalam nash Hadits ada ada
empat cacat yang disebutkan:
- ‘Aura’ (Buta sebelah) yang tampak terlihat jelas.
- ‘Arja’ (Kepincangan) yang tampak terlihat jelas.
- Maridhah (Sakit) yang tampak terlihat jelas.
- ‘Ajfa’ (kekurusan yang membuat sungsum hilang).
Maka, Jika hewan kurban terkena salah satu atau lebih dari empat
macam aib ini, maka hewan tersebut tidak sah dijadikan sebagai hewan
kurban, dikarenakan belum memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan
oleh syari’at Islam.
Dari Al-Bara’ bin ‘Azib berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya,
‘Apa yang harus dijauhi untuk hewan kurban?‘ Beliau memberikan isyarat
dengan tangannya lantas bersabda: “Ada empat.” Barra’ lalu memberikan
isyarat juga dengan tangannya dan berkata; “Tanganku lebih pendek
daripada tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
الْعَرْجَاءُ
الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا وَالْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ
الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَجْفَاءُ الَّتِى لاَ تُنْقِى
"(empat perkara tersebut adalah) hewan yang jelas-jelas pincang
kakinya, hewan yang jelas buta sebelah, hewan yang sakit dan hewan yang
kurus tak bersumsum.” (H.R.Malik)
Dengan demikian seseorang yang akan berkurban hendaklah memilih hewan
kurban yang memiliki kondisi fisik sehat, tidak dalam keadaan sakit,
tidak pincang, tidak buta sebelah matanya dan tidak kurus tak bersumsum,
karena alasan larangan empat kategori cacat hewan diatas adalah
berkurangnya daging pada hewan kurban tersebut.
Selain empat cacat diatas, sebagian ulama’ ada yang menambahkan hewan
kurban yang anggota badannya ada yang terpotong, misalnya kuping, ekor
atau anggota badan yang lain, tidak sah menggunakan hewan tersebut
sebagai kurban. Sedangkan untuk hewan yang patah tanduknya atau hewan
yang belum tumbuh atau juga tidak bertanduk maka boleh dijadikan hewan
kurban, karena hal ini tidak mengurangi daging hewan kurban, sebagaimana
penjelasan dalam Kitab Kifayatul Akhyar,
ويجزئ مكسور القرن، وكذا الجلحاء وهي التي لم يخلق لها قرن، لأن ذلك كله لايؤثر في اللحم فأشبه الصوف
Cukuplah berkurban dengan hewan yang patah tanduknya, begitu juga
hewan yang belum tumbuh atau tidak bertanduk, karena hal itu tidaklah
berpengaruh pada daging hewan kurban, seperti halnya bulu.
(Pen. Fuad H. Basya)
Sumber: NU Online